Selasa, 26 Februari 2013

Vaksinasi dan Tata Laksananya Vaksinasi ialah tindakan pemberian vaksin atau bisa diartikan sebagai infeksi buatan yang terkontrol guna menstimulasi pembentukan antibodi yang tinggi (protektif) dan seragam. Vaksinasi hanya boleh dilakukan di daerah peternakan yang telah tercemar oleh bibit penyakit, sedangkan daerah yang belum terserang (clean areas) tidak boleh dilakukan vaksinasi. Vaksinasi ini bertujuan menstimulasi pembentukan antibodi yang sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Antibodi sendiri merupakan suatu molekul protein yang dihasilkan oleh sel plasma sebagai akibat interaksi antara limfosit B dengan agen asing, baik mikroorganisme vaksin maupun bibit penyakit. Antibodi ini akan bereaksi spesifik terhadap antigen tertentu. Struktur antibodi yang dihasilkan dari sel limfosit B Pembentukan titer antibodi pada saat vaksinasi pertama tidaklah secepat dan setinggi vaksinasi ulang (ke-2, dst). Saat vaksinasi pertama di dalam tubuh ayam belum terbentuk sel memori, akibatnya respon pembentukan antibodinya membutuhkan waktu yang relatif lama dibandingkan vaksinasi ulang, dimana telah terbentuk sel memori. Antibodi dikatakan baik jika titernya protektif (misal AI > 16, ND dan EDS > 64 dengan HI test) dengan persentase kebal di atas standar (> 80%) dan koefisien variasinya < 35%. Kondisi titer antibodi seperti itu akan mampu memberikan perlindungan yang optimal. Kondisi titer antibodi tersebut tidak akan selamanya protektif. Setelah beberapa periode waktu, titer antibodi di dalam tubuh ayam akan menurun dan kecepatan penurunan titer antibodi ini dipengaruhi oleh tantangan bibit penyakit maupun kondisi ternaknya. Agar pembentukan titer antibodi bisa mencapai optimal maka pelaksanaan vaksinasi harus dilakukan secara tepat, minimal untuk 3 ketentuan yaitu right vaccine, right time and right way (tepat vaksin, tepat waktu dan tepat aplikasi atau cara pemberian). • Vaksin yang tepat Vaksin yang akan diberikan untuk ayam haruslah disesuaikan dengan jenis dan keganasan penyakit yang sering menyerang. Hal yang perlu diingat kembali ialah titer antibodi yang terbentuk bersifat spesifik dan sesuai dengan kandungan mikroorganisme dalam vaksin. Jadi Medivac ND La Sota yang diberikan pada ayam hanya akan menstimulasi pembentukan titer antibodi ND. Selain vaksinnya sesuai dengan jenis dan keganasan penyakit, vaksin tersebut haruslah baik kualitasnya. Vaksin dikatakan baik jika : 1. Segel vaksin masih utuh dan etiket produknya masih terpasang dengan baik Segel vaksin yang telah rusak bisa menjadi indikator bahwa vaksin telah dibuka dan hal ini tentu saja akan menurunkan potensi vaksin, terutama dari segi sterilitasnya. Selain itu, karena vaksin aktif bersifat higroskopis maka saat tutup dibuka dan vaksin menjadi tidak vakum mengakibatkan vaksin menjadi kisut. Vaksin Medion (Medivac) telah menggunakan sistem flip off disemua tutup kemasan vaksinnya. Dengan teknik tutup ini maka Medivac lebih mudah dibuka. Selain tutup, etiket vaksin juga harus tertempel dengan baik dan tidak rusak. Vaksin dengan tutup kemasan yang masih tersegel dan etiket produk yang terpasang dengan baik menunjukkan vaksin tersebut masih berkualitas baik • Expired date dari vaksin belum habis (terlewatkan) Expired date merupakan batasan waktu yang menunjukkan bahwa potensi vaksin masih tetap optimal. Jika telah melampaui batas expired date maka potensi vaksin (dosis vaksin) sudah menurun. Expired date ini hanya berlaku jika vaksin disimpan pada kondisi yang direkomendasikan. Vaksin yang telah habis masa expired date-nya hendaknya tidak digunakan, meskipun dari segi fisiknya masih terlihat normal. Sebelum digunakan periksa dulu masa expired date vaksin di bagian etiket. Jika telah expired date sebaiknya tidak digunakan • Bentuk fisik vaksin tidak berubah Bentuk fisik vaksin yang telah berubah menunjukkan bahwa telah terjadi instabilitas kualitas vaksin. Perubahan bentuk fisik vaksin dapat disebabkan oleh suhu penyimpanan vaksin yang kurang sesuai. Hal ini terlihat pada vaksin inaktif berbentuk suspensi (Medivac Coryza B) disimpan di freezer atau pernah beku, dimana dalam waktu < 5 menit cairan vaksin telah terpisah sedangkan vaksin yang normal cairannya tidak terpisah. Vaksin inaktif berbentuk suspensi yang pernah beku akan terbentuk 2 batas cairan yang berbeda hanya dalam waktu < 5 menit setelah didiamkan (B) sedangkan yang belum beku akan tetap tercampur (A) Vaksin inaktif yang berbentuk emulsion yang telah disimpan dalam freezer tidak menunjukkan perubahan sejelas vaksin suspension. Namun bisa dipastikan bahwa potensi dari vaksin itu telah menurun. Perubahan dari vaksin aktif akan nampak lebih jelas, diantaranya perubahan dari bentuk pellet vaksin aktif. Perubahan yang seringkali ditemukan ialah pellet menjadi kisut atau mengecil. Hal ini disebabkan vaksin tersebut tidak vakum. Kondisi fisik vaksin aktif yang normal (background ungu) dan berbagai macam kondisi pellet vaksin aktif yang tidak normal (background biru), seperti pellet kisut dan berbentuk mirip sarang lebah Beberapa faktor yang dapat menurunkan atau merusak kualitas vaksin antara lain terkena sinar matahari secara langsung, tercemar bahan kimia seperti detergen dan logam-logam berat (Ca, Mg, Mn dll), suhu penyimpanan tidak sesuai (2-8oC) dan pH yang tidak sesuai (7 + 0,2) maupun karena kemasan yang rusak. Vaksin Medion, Medivac telah dilakukan quality control (QC) mulai proses produksi sampai produk jadi. QC saat proses produksi meliputi uji sterilitas, kandungan mikroorganisme vaksin dan uji inaktivasi (khusus vaksin inaktif). Sedangkan pada produk jadi, QC yang dilakukan ialah uji fisik, kandungan mikroorganisme vaksin, sterilitas, inaktivasi, kemurnian, keamanan dan potensi. • Waktu yang tepat Program vaksinasi harus disusun berdasarkan kondisi di farm tersebut. Jika farm baru maka alangkah lebih baik jika kita mencari informasi ke farm tetangga. Medion telah menerbitkan Program Pemeliharaan Kesehatan Ayam Pedaging (PPKAD) dan Ayam Petelur (PPKAT) yang berisi panduan program vaksinasi pada ayam pedaging dan petelur yang bisa dijadikan sebagai panduan umum. Penyusunan program vaksinasi harus mempertimbangkan mengenai umur serangan penyakit, umur ayam dan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin aktif memiliki kemampuan menggertak pembentukan antibodi yang lebih cepat dibandingkan vaksin inaktif. Dalam waktu 2-3 minggu titer antibodi hasil vaksinasi dengan vaksin aktif telah mencapai standar protektif, sedangkan vaksin inaktif baru mencapai standar protektif pada 3-4 minggu. Meskipun demikian, titer antibodi yang dihasilkan vaksin inaktif relatif bertahan lebih lama di atas protektif dibandingkan vaksin aktif. Berdasarkan pola pembentukan titer antibodi tersebut maka waktu pelaksanaan vaksinasi dengan menggunakan vaksin aktif sebaiknya dilakukan selambat-lambatnya 2-3 minggu sebelum penyakit menyerang, sedangkan vaksin inaktif bisa diberikan 3-4 minggu sebelum waktu penyakit menyerang. Dengan demikian diha-rapkan pada saat bibit penyakit menginfeksi di dalam tubuh ayam telah terbentuk antibodi yang bisa mem-blok bibit penyakit tersebut. • Cara vaksinasi yang benar Saat vaksin yang akan digunakan telah dipastikan berkualitas dan waktu pelaksanaan vaksinasi tepat dengan waktu serangan penyakit, maka penentuan terakhir dan terpenting ialah aplikasi vaksin dilakukan secara tepat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan vaksinasi ialah : • Persiapan peralatan Alat suntik Soccorex, termasuk jarum suntiknya disterilkan dengan cara dimasak dalam air mendidih selama 30 menit (dihitung setelah air mulai mendidih). Selain itu pastikan kondisi jarumnya masih tajam dan jangan lupa mempersiapkan jarum cadangannya. • Membawa vaksin ke lokasi Periksa kondisi vaksin yang akan kita bawa ke lokasi kandang. Pastikan vaksin itu berkualitas baik (lihat sub judul vaksin yang tepat). Saat membawa vaksin ke lokasi, kondisi vaksin harus sama dengan kondisi penyimpanan vaksin, yaitu suhu 2-8oC dan terhindar dari sinar matahari langsung. • Persiapan sebelum memulai vaksinasi Thawing atau proses meningkatkan suhu vaksin secara bertahap menjadi proses persiapan sebelum melakukan vaksinasi. Tujuan thawing ini ialah mengkondisikan suhu vaksin yang sebelumnya 2-8oC mendekati ke suhu tubuh ayam (41oC) dengan cara digenggam sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, suhunya sekitar 25-27oC. Thawing pada vaksin aktif dilakukan dengan menambahkan larutan dapar ke dalam kemasan vaksin aktif dan kocok sampai pellet vaksin aktif larut sempurna. Setelah itu campurkan kembali ke dalam botol larutan dapar dan kocok sampai homogen. Dalam pengocokan jangan sampai timbul buih. Vaksin aktif siap diberikan secara tetes mata, hidung atau mulut. Pada vaksinasi pox, vaksin dilarutkan pada pelarut khusus sampai merata. Jika vaksin aktif akan diberikan via air minum, maka setelah thawing tambahkan sedikit air minum ke dalam botol lalu kocok. Setelah homogen, campurkan vaksin itu ke dalam air minum. Sesuaikan jumlah air minumnya, yaitu habis dikonsumsi selama + 2 jam. Selain itu, pastikan air minum berkualitas baik dan jika perlu tambahkan Medimilk. Persiapan vaksin aktif yang akan diberikan secara injeksi ialah setelah thawing vaksin dicampurkan secara merata dengan Aquadestilata Steril. Teknik thawing vaksin inaktif dilakukan dengan menggenggam dan mengocok botol. Setelah thawing vaksin inaktif bisa langsung diberikan kepada ayam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada persiapan vaksinasi ini antara lain : • Pastikan kondisi ayam yang akan divaksin sehat. Jika terindikasi ayam sakit maka jadwal vaksinasi hendaknya ditunda dan segera menangani gejala yang timbul • Setelah thawing vaksin hendaknya tidak dimasukkan ke dalam marina cooler yang suhunya 2-8oC karena bisa menurunkan potensi vaksin • Vaksin aktif harus segera diberikan setelah proses thawing dan hendaknya habis dikonsumsi selama 2 jam sedangkan vaksin inaktif selama 24 jam • Saat vaksinasi Saat vaksinasi menjadi penentu akhir keberhas ilan vaksinasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ialah : 1. Pada vaksinasi via air minum : 1) ayam dipuasakan air minum selama 1-2 jam (tergantung kondisi cuaca) sebelum vaksinasi; 2) Jumlah dan distribusi tempat minum sesuai dengan jumlah ayam; 3) Tempat minum jangan terkena sinar matahari langsung dan jauhkan dari brooder; 4) Jika perlu vaksin diberikan 2 tahap untuk menghindari ayam yang tidak kebagian vaksin 2. Tidak tergesa-gesa saat melakukan vaksinasi dan pastikan semua ayam telah tervaksin dengan dosis yang sama 3. Pastikan vaksin yang diberikan masuk ke dalam tubuh ayam dengan baik, yaitu 1) tetes mulut ditunjukkan dari reflek menelan; 2) tetes hidung ditunjukkan ayam telah menghirup vaksin; 3) tetes mata dimana ayam telah berkedip; 4) injeksi (suntikan) terlihat pada lokasi suntikan tidak basah. Dan secara umum tempat vaksinasi tidak banyak tercecer vaksin 4. Ukuran jarum Soccorex untuk ayam ialah 0,5 atau 0,9 mm dan jarum sebaiknya diganti minimal setiap 500 penyuntikan. Selain itu pastikan posisi penyuntikan membentuk sudut 30o dengan bagian tubuh ayam, jangan tegak lurus 5.Untuk vaksin inaktif selama vaksinasi hendaknya vaksin tetap dikocok secara periodik 6.Hati-hati saat memegang dan melepaskan ayam 7.Jangan melakukan desinfeksi selama 24-48 jam sebelum dan sesudah vaksinasi dengan vaksin aktif (selain via injeksi) 8Berikan Vita Stress sebelum dan sesudah vaksinasi selama 3 hari berturut-turut • Setelah vaksinasi Botol kemasan maupun sisa vaksin hendaknya tidak dibuang sembarangan di dalam kandang, namun dibakar atau disterilkan dalam air mendidih terlebih dulu. Bersihkan alat suntik Soccorex dengan memakai air hangat dan sabun. Setelah dibilas, sterilkan dengan cara dimasak dalam air mendidih selama 30 menit. Selain itu, cuci tangan dengan memakai sabun. • Monitoring titer antibodi Monitoring titer antibodi guna melihat pembentukan titer antibodi hasil vaksinasi biasanya dilakukan pada 2-3 minggu post vaksinasi aktif dan 3-4 minggu post vaksinasi inaktif. Jumlah sampel darah untuk pemeriksaan titer antibodi yang bisa mencerminkan kondisi ayam secara keseluruhan minimal 10-15 sampel per kandang. Selain itu, monitoring titer antibodi juga dilakukan untuk menentukan jadwal revaksinasi. Untuk keperluan ini, sampel darah biasanya diambil minimal 1 bulan sekali. Pengambilan sampel darah biasanya dilakukan melalui pembuluh darah yang berada di bagian sayap (untuk ayam dewasa) dan melalui jantung (anak ayam untuk memeriksa antibodi maternal). Medion telah menyediakan fasilitas uji titer antibodi, yaitu HI test dan ELISA. Vaksinasi merupakan salah satu langkah pengendalian penyakit. Keberhasilannya perlu didukung dengan penerapan tata laksana yang baik dan biosecurity secara ketat. Info Medion Edisi Oktober 2008 Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar